Mana Baiknya Dipilih Anak Muda: Asuransi Jiwa atau Asuransi Kesehatan?


Asuransi kesehatan para milenial

Bila dihadapkan pada pertanyaan tentang kebutuhan asuransi, harus diakui masih banyak anak muda berusia 20-an yang masih galau atau memilih mengabaikannya. Kebanyakan kalangan milenial usia ini menilai asuransi adalah kebutuhan orangtua di atas usia 40-an dan hanya perlu dipikirkan ketika kelak sudah berkeluarga atau saat usia sudah lebih matang. Maklum saja, usia muda masih identik dengan sehat dan bugar. Alhasil, risiko kesehatan dan risiko kematian dinilai masih kecil.

Selama ini usia muda di bawah 30 tahun identik dengan kondisi fisik yang prima di mana kulit masih kencang dan tubuh kuat diajak begadang hingga malam. Dalam pemahaman seperti ini, tidak mengherankan bila masih banyak anak muda yang tidak terlalu memerhatikan dengan serius kebutuhan asuransi mereka.

Memang harus diakui, tanpa memandang kelompok umur pun, kesadaran berasuransi masyarakat Indonesia sejauh ini masih relatif rendah. Hingga tahun 2017 lalu, mengutip CNBC Indonesia, penetrasi asuransi terhadap produk domestik bruto (PDB) di Indonesia baru sebesar 2,99%. Angka itu masih di bawah negeri jiran seperti Malaysia, Singapura dan Thailand yang sudah di atas 5%.

Padahal, tingkat risiko kesehatan dan kematian tergolong tinggi, tak terkecuali di kalangan masyarakat berusia relatif muda di bawah 30-an tahun. Mengutip Tirto.id, beberapa tahun belakangan ini terjadi tren penyakit degeneratif yang diidap oleh kalangan berusia muda. Menurut estimasi Kementerian Kesehatan tahun 2013, sebanyak 39% penderita jantung di Indonesia adalah mereka yang berusia di bawah 44 tahun. Bahkan, sebanyak 22% di antaranya adalah kelompok usia 15-35 tahun.

Data yang sama juga menyebutkan, penderita penyakit jantung koroner di Indonesia juga banyak terjadi di kalangan anak muda. Hampir 27% kasus jantung koroner terjadi pada kelompok usia di bawah 35 tahun di mana sebanyak 12% di antaranya dialami anak muda berusia di bawah 25 tahun. Gaya hidup instan, pola makan kurang sehat ditambah tingkat stres yang tinggi menjadi kombinasi penyebab yang kerap memicu munculnya penyakit-penyakit tersebut.

Berasuransi untuk mengelola risiko finansial

Anda tentu tidak mau, dong, sedang hepi-hepinya menikmati hidup mendadak terjatuh sakit dan pusing membayar tetek bengek biaya berobat? Risiko kesehatan yang meningkat dan kenaikan kasus kematian usia muda akibat penyakit degeneratif memang sebuah momok yang menakutkan.

Risiko-risiko tersebut sebenarnya bisa dikelola atau diperkecil. Misalnya, melalui upaya menjaga pola makan supaya senantiasa sehat, menjaga level stres agar tidak sampai meracuni tubuh, dan menerapkan gaya hidup sehat dalam aktivitas sehari-hari.

Lantas, bagaimana dengan cara mengelola risiko finansial akibat terjadinya sakit ataupun kematian? Para perencana keuangan menyarankan satu cara yang mudah, yaitu dengan membeli produk asuransi yang tepat. Asuransi dibutuhkan oleh siapa saja yang memang menanggung risiko finansial, tak terkecuali oleh mereka yang usianya yang masih di bawah kepala tiga. Dengan berasuransi, guncangan finansial bisa diminimalisasi apabila sewaktu-waktu Anda jatuh sakit.

Bila Anda memiliki asuransi, ketika suatu saat jatuh sakit dan memerlukan pengobatan, Anda tidak perlu mengeluarkan biaya berobat atau rawat inap di rumahsakit. Perusahaan asuransilah yang akan membayarkan biaya-biaya tersebut. Supaya bisa mendapatkan manfaat perlindungan asuransi, Anda cukup membayar premi sesuai manfaat yang Anda butuhkan.

Maka itu, Anda perlu menyediakan alokasi anggaran khusus untuk biaya asuransi. Saat ini sudah banyak tersedia asuransi dengan biaya premi yang terjangkau. Alokasikan paling tidak 5%-10% penghasilan rutin untuk membeli asuransi. Beberapa asuransi yang penting dimiliki antara lain asuransi jiwa, asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi kerugian untuk aset-aset pribadi seperti rumah, mobil, dan lain sebagainya.

Namun, apabila sumber dana terbatas, Anda bisa membuat prioritas mana yang lebih penting. Terutama antara asuransi jiwa dan asuransi kesehatan. Agar lebih jelas menentukan prioritas, ada baiknya Anda menyimak beberapa poin di bawah ini:

1. Sadari profil Anda

Apakah Anda pencari nafkah utama di keluarga? Apakah akan terjadi masalah finansial pada keluarga apabila Anda mendadak jatuh sakit atau meninggal dunia? Sebelum menentukan produk asuransi apa yang tepat untuk Anda miliki, terlebih dulu pahami profil Anda.

Asuransi jiwa dibutuhkan oleh mereka yang berperan sebagai pencari nafkah utama di sebuah keluarga. Asuransi jiwa tidak bisa mencegah kematian. Akan tetapi, asuransi jiwa bisa meminimalkan guncangan finansial sebuah keluarga ketika tiba-tiba sang pencari nafkah utama berpulang. Keluarga bisa melanjutkan hidup dengan bekal uang pertanggungan dari perusahaan asuransi.

Jadi, bila Anda saat ini berperan sebagai pencari nafkah, ada baiknya Anda memiliki asuransi jiwa walaupun dari sisi usia Anda mungkin masih relatif muda.

Sebaliknya, apabila Anda bukan berperan sebagai pencari nafkah di keluarga, memiliki asuransi jiwa sebenarnya bukan sebuah prioritas utama. Anda bisa mengalihkan anggaran untuk menutup kebutuhan asuransi yang lain.

BACA JUGA: Ingin Sekolah Lagi? Pikirkan Dulu Hal Ini

2. Asuransi kesehatan dibutuhkan semua orang

Semua orang menanggung risiko sakit, oleh karena itu melengkapi diri dengan asuransi kesehatan akan sangat baik bagi pengelolaan finansial seseorang. Sejak tahun 2014 lalu, masyarakat Indonesia sudah memiliki sistem jaminan sosial (social security) di sektor kesehatan melalui kehadiran BPJS Kesehatan. Akan tetapi, karena sifatnya adalah layanan dasar, BPJS Kesehatan bagi sebagian kalangan mungkin kurang mencukupi.

Anda yang membutuhkan kenyamanan serta kecepatan lebih memadai dalam proses berobat, bisa menimbang untuk menambahnya dengan asuransi kesehatan komersial. Ada beberapa keuntungan memiliki asuransi kesehatan komersial.

Pertama, mayoritas asuransi kesehatan komersial memakai sistem cashless. Saat datang berobat Anda cukup membawa kartu asuransi tanpa pusing menyiapkan uang di depan atau mengurus reimbursement di kemudian hari. Kedua, layanan juga lebih cepat tidak perlu antri panjang. Ketiga, manfaat asuransi kesehatan bisa Anda tentukan sesuai kebutuhan. Mulai dari perawatan gigi, rawat jalan, rawat inap, sampai perlindungan dari penyakit kritis.

Saat ini sudah banyak tersedia pilihan jenis asuransi kesehatan mulai dari yang berjenis cashplan atau santunan harian, hingga asuransi kesehatan berskema hospital benefit. Pilihlah sesuai kebutuhan dan budget yang Anda miliki.

Bila memang butuh dua-duanya, banyak juga tersedia produk asuransi jiwa yang memiliki rider atau manfaat tambahan untuk kesehatan. Jadi, Anda mendapatkan dua sekaligus yaitu perlindungan jiwa dan perlindungan kesehatan.

3. Pilih produk sesuai kebutuhan

Setelah mengetahui asuransi apa yang sebenarnya Anda butuhkan, apakah asuransi kesehatan atau asuransi jiwa, saatnya berselancar mencri produk di pasar. Mungkin Anda bingung mulai darimana mencarinya. Jangan khawatir, manfaatkan internet untuk meriset produk asuransi kesehatan atau asuransi jiwa yang tepat sesuai kebutuhan Anda.

Anda bisa membaca ke blog personal finance atau langsung saja menuju website perusahaan penyedia produk asuransi untuk melihat jenis-jenis produk asuransi. Misalnya, avrist.com.

Jangan segan untuk langsung menghubungi provider asuransi tersebut. Umumnya, provider asuransi akan langsung menghubungi Anda melalui agen mereka untuk memandu Anda menemukan produk yang paling sesuai dengan kebutuhan.

BACA JUGA: Reksadana, Cara Menabung Kekinian

4. Pilih provider asuransi yang bagus

Banyak perusahaan asuransi yang hadir di Indonesia. Anda perlu mencari penyedia asuransi yang memiliki rekam jejak bagus dari segi pelayanan, memiliki jaringan kerjasama fasilitas kesehatan yang memadai dan menyediakan produk yang tepat sesuai kebutuhan Anda.

Nah, kini Anda tidak perlu lagi galau antara asuransi jiwa atau kesehatan. Selamat berasuransi!


log in

reset password

Back to
log in