Imigrasi Medan Tangani 193 Warga Bangladesh yang Kelaparan di Ruko


Imigrasi Medan Tangani 193 Warga Bangladesh yang Kelaparan di Ruko

Medan

Sebanyak 193 imigran asal Bangladesh yang ditemukan kelaparan di dalam sebuah ruko di Kota Medan, Sumatera Utara, pada Selasa (5/2), tengah ditangani pihak Imigrasi.

Kepala Imigrasi Kelas I Khusus Medan, Ferry Monang Sihite, mengatakan para imigran merupakan laki-laki berusia 20-35 tahun. Seusai dilakukan pendataan, mereka dibawa ke Rumah Detensi Imigrasi di Belawan.

Pihak Imigrasi hanya menemukan 14 paspor dari para imigran. Selebihnya, “mereka tidak memiliki dokumen perjalanan,” ungkapnya sebagaimana dilaporkan wartawan di Medan, Sulaiman Achmad, untuk BBC News Indonesia.

  • Perempuan Inggris penampar petugas imigrasi divonis penjara di Bali
  • Harga tiket domestik melangit, warga Aceh ‘gunakan paspor’ saat terbang keluar kota
  • Pengungsi Somalia ke Indonesia ‘melalui sindikat penyelundup’

Para imigran diduga masuk secara ilegal ke Indonesia lewat jalur laut melalui Bali. Selanjutnya, mereka bertolak ke Medan dan dari sana menyeberang laut menuju Malaysia. Di negeri jiran, imigran-imigran biasanya dipekerjakan sebagai pekerja kebun sawit.

Pihak Imigrasi akan mendalami siapa saja yang terlibat mendatangkan hampir 200 imigran tersebut.

“Kami akan mendalami siapa yang merekrut, apa modusnya, dan untuk tujuan apa,” kata Ferry.

Dari pendalaman tersebut, pihak Imigrasi akan dapat menentukan apakah para imigran Bangladesh ini menjadi korban perdagangan manusia, melakukan pelanggaran imigrasi, mencari suaka, atau mengungsi.

“Selanjutnya nanti akan kami laporkan bagaimana penanganannya apakah nanti akan dilakukan deportasi, atau dimungkinkan kami lakukan pro justisia,” ujarnya.

Ditemukan kelaparan

Pada Selasa (5/2) malam, warga kawasan Jalan Pantai Barat Kelurahan Cinta Damai, Kecamatan Medan Helvetia, dihebohkan dengan teriakan dari dalam sebuah ruko yang tertutup, menggunakan bahasa yang tak dimengerti.

Pemuka masyarakat kemudian datang dan meminta orang yang berada di dalam untuk membuka pintu.

Beberapa warga mengaku kaget melihat ratusan warga asing duduk berdesakan di dalam ruko berukuran 4 meter x 12 meter, tanpa makan dan minum selama beberapa hari.

Warga setempat pun berinisiatif memberikan makanan kepada mereka.

Harian Kompas yang mengutip keterangan seorang warga melaporkan bahwa ada seorang imigran Bangladesh yang mengerti bahasa Melayu dengan dialek Malaysia membuka komunikasi dengan warga.

Imigran tersebut kemudian menghubungi seseorang yang diduga sebagai koordinator.

Beberapa saat kemudian koordinator itu datang dan menendang beberapa imigran.

Kepala Lingkungan IV Kelurahan Cinta Damai, Efendi Silitonga, lalu menghubungi polisi dan orang yang menendang imigran itu pergi.

Kadiv Humas Polda Sumatera Utara, Kombes Pol Tatan Dirsan Atmaja, mengatakan kepolisian masih melakukan pendalaman bersama Imigrasi terkait kasus ini.

“Kita bekerja sama dengan Imigrasi. Masih kita dalami,” ujarnya kepada BBC News Indonesia.

Penemuan sejumlah imigran asal Bangladesh tanpa berdokumen resmi di Sumatera Utara bukan kasus pertama.

Pada Desember lalu, sebanyak 30 warga Bangladesh ditampung di sebuah di Tanjung Tiram, Kabupaten Batubara. Ke-30 orang itu diduga hendak diselundupkan ke Malaysia, untuk menjadi tenaga kerja ilegal.


(ita/ita)

log in

reset password

Back to
log in