China Setop Penelitian Ilmuwan Pencipta Bayi Hasil Rekayasa Genetika


China Setop Penelitian Ilmuwan Pencipta Bayi Hasil Rekayasa Genetika

BeijingIlmuwan Cina He Jiankui berbicara di Konferensi Internasional Rekayasa Genetika Manusia Kedua di Hong KongProfesor He mengatakan bahwa ada potensi kehamilan kedua dengan embrio hasil rekayasa genetika (AFP)

Cina telah menghentikan penelitian yang dilakukan ilmuwan yang mengklaim telah menciptakan bayi hasil rekayasa genetika pertama di dunia. Pemerintah Cina akan menginvestigasi penelitian tersebut.

Awal pekan ini, He Jiankui memicu gelombang amarah ketika ia mengatakan dalam sebuah konferensi rekayasa genetika bahwa ia telah merekayasa gen sepasang bayi perempuan kembar agar imun terhadap HIV.

Klaim tersebut belum terkonfirmasi, namun jika benar merupakan pelanggaran terhadap peraturan ketat terkait pemanfaatan rekayasa genetika pada manusia.

Pihak universitas tempat Profesor He melakukan penelitiannya menyatakan bahwa mereka tak tahu menahu perihal eksperimen yang dilakukan sang profesor.

  • Ilmuwan Cina ‘bangga’ setelah mengklaim ‘membuat’ bayi hasil rekayasa genetika
  • Ilmuwan diizinkan melakukan rekayasa genetika janin
  • Organ babi bisa ditransplantasi ke tubuh manusia

The Southern University of Science and Technological innovation di Shenzhen menyatakan awal pekan lalu bahwa He tengah dalam masa cuti tak dibayar sejak Februari lalu. Mereka pun akan menginvestigasi klaim sang profesor.

Kamis (29/11) kemarin, Kementerian Ilmu Pengetahuan Cina mengatakan bahwa mereka telah “meminta organisasi itu untuk menghentikan aktivitas ilmiah orang yang bersangkutan.”

Komisi Kesehatan Nasional Cina telah menyatakan bahwa penelitian Profesor He “telah secara serius melanggar hukum, peraturan dan standar etika Cina” dan bahwa mereka akan menginvestigasi klaim tersebut.

Apa yang diklaim ilmuwan tersebut?

Profesor He mengklaim telah mengubah DNA embiro sepasang bayi perempuan kembar bernama Lulu dan Nana, dengan maksud mencegah keduanya terkena HIV.

Dalam konferensi rekayasa genetika manusia di Universitas Hong Kong, ia menyatakan bahwa kedua bayi lahir dengan ordinary dan sehat, dan perkembangannya akan dimonitor selama 18 tahun ke depan.

Ia menyatakan bahwa ia mendanai sendiri eksperimen tersebut dan mengakui bahwa universitasnya tak tahu menahu soal penelitian tersebut.

Profesor He juga mengumumkan bahwa delapan pasangan – yang tediri dari para ayah pengidap HIV positif dan para ibu dengan HIV-negatif – secara sukarela mendaftarkan diri mereka untuk ikut dalam eksperimen itu. Salah satu pasangan lalu memutuskan mundur, tapi ada pasangan lain yang kemungkinan tengah hamil muda dengan embrio yang gennya telah direkayasa.

He menyebut bahwa penelitiannya telah didaftarkan ke jurnal ilmiah untuk dikaji, meski ia tidak menyebut jurnal mana yang dimaksud. Ia juga banyak mengelak saat ditanya soal rincian lainnya, termasuk nama-nama para pakar yang ia klaim telah memeriksa penelitiannya dan memberikan masukan.

Apa yang kontroversial?

Peralatan rekayasa genetika The Cripsr yang oleh He disebut digunakan bukan hal baru di dunia sains. Peralatan itu pertama kali dibuat tahun 2012.

Cara pemakaiannya yaitu dengan menggunakan “gunting molekul” untuk memodifikasi helai DNA tertentu – entah memutus, mengganti atau menjepitnya.

Rekayasa genetika diperkirakan dapat bantu menghindari penyakit turunan dengan menghapus atau mengubah kode genetika bermasalah pada embrio.

Meski demikian, para pakar khawatir modifikasi gen pada embrio dapat membahayakan, bukan hanya bagi bayi tersebut, tapi juga bagi generasi berikutnya yang mewarisi perubahan genetika serupa.

Ratusan ilmuwan, baik di Cina maupun dari seluruh dunia, serentak mengutuk klaim He.

  • Tikus sesama jenis produksi bayi melalui rekayasa genetika
  • Dapatkah kita mengubah genetika para astronot?
  • Apakah faktor genetik memengaruhi kemampuan atletik?

Profesor Julian Savulescu, pakar etika Universitas Oxford, menyatakan bahwa bila klaim itu benar, “ini adalah eksperimen yang sangat buruk.”

“Rekayasa genetika sendiri bersifat eksperimental dan masih berkaitan dengan mutasi yang meleset, yang bisa menyebabkan masalah genetik sejak dini hingga di kemudian hari, termasuk tumbuhnya sel kanker,” ujarnya kepada BBC.

“Eksperimen ini justru menempatkan anak-anak yang regular dan sehat dalam bahaya terkena risiko penyuntingan gen, tanpa manfaat yang berarti.”

Selain itu, banyak negara termasuk Inggris memiliki peraturan yang mencegah praktik modifikasi gen pada embrio untuk kepentingan reproduksi bantuan pada manusia.

Ilmuwan diperbolehkan melakukan penelitian rekayasa genetika pada embrio hasil bayi tabung yang tak digunakan, asalkan embrio-embrio hasil eksperimen tersebut langsung dihancurkan, dan tidak digunakan untuk dikembangkan menjadi bayi.

Menurut Deputi Menteri Sains dan Teknologi Cina Xu Nanping, Cina mengizinkan penelitian sel punca embrio bayi tabung maksimal selama 14 hari.


(ita/ita)


log in

reset password

Back to
log in