Berburu Gempa dengan Menggunakan Pengetahuan Mesin


Berburu Gempa dengan Menggunakan Pengetahuan MesinGetty Images

Washington – Para ilmuwan menggunakan mesin untuk mengkaji pola gempa dan juga gempa susulan.

Gempa susulan adalah gempa lanjutan setelah “gempa utama”. Sehingga berdasarkan definisinya berarti lebih kecil, meskipun sering kali tidaklah begitu berbeda.

Ini adalah untuk pertama kalinya metode pengkajian dengan mesin digunakan untuk mengetahui kemungkinan gempa.

  • Belasan gempa susulan menghantam Lombok, pasien rumah sakit di Mataram dan Denpasar dievakuasi
  • Gempa Lombok: Menangani bencana ‘berjibaku 24 jam’ di tengah gempa susulan
  • Gempa susulan 6,2 SR kembali guncang Lombok

Para peneliti berharap teknik ini atau yang sejenisnya akan menyempurnakan pemahaman kita terkait dengan gempa.

“Jika Anda berpikir tentang membuat ramalan gempa,” kata salah satu penulis kajian ini Profesor Brendan Meade dari Universitas Harvard, AS, “Anda ingin melakukan tiga hal; Anda ingin memperkirakan kapan akan terjadi, Anda ingin mengatakan sesuatu tentang kemungkinan seberapa besar dan kemungkinan akan di mana terjadi.

“Yang kami inginkan adalah menangani bagian terakhir masalah – yaitu di mana gempa susulan kemungkinan akan terjadi.”

Gempa sering kali terjadi di sepanjang batas lempeng tektonik.
Gempa sering kali terjadi di sepanjang batas lempeng tektonik. (Science Photo Library)

Tim menggunakan bank data dari lebih 100.000 gempa dan gempa susulan, termasuk gempa Jepang tahun 2011, untuk melatih jaringan syaraf atau neural network mengetahui pola gempa susulan.

Mereka kemudian menggunakannya untuk memperkirakan pola-pola ini pada gempa lain yang belum pernah diamati.

  • Gempa Lombok: Gempa susulan diperkirakan terjadi hingga empat minggu
  • Duka gempa Lombok: ‘Tak mungkin rehabilitasi’ di tengah gempa susulan yang terus terjadi
  • Perayaan hari raya kurban Idul Adha di Lombok, dan berbagai penjuru dunia

Jaringan syaraf dibuat berdasarkan proses dan pola otak manusia. Jadi mereka tidak menempatkan data gempa utama pada sejumlah perhitungan, seperti yang dilakukan sekarang untuk membuat ramalan, tetapi jaringan ini memiliki kekuatan memproses untuk mengkaji berbagai kemungkinan jalur lain.

Sehingga hal ini dapat memastikan daerah patahan mana – retakan kerak bumi dimana gempa terjadi – yang kemungkinan akan mengalami paling tidak satu getaran susulan setelah gempa utama.

Patahan San Andreas ada di hampir seluruh wilayah California AS.
Patahan San Andreas terletak di hampir seluruh wilayah California, AS. (SCIENCE PHOTO LIBRARY)

“Jaringan syaraf melakukannya dengan lebih baik,” kata penulis utama laporan Dr Phoebe DeVries, dari Universitas Connecticut, AS.

Dr Elizabeth Cochran, ahli seismologi United States Geological Survey (USGS) yang tidak terlibat dalam kajian ini menggambarkannya sebagai “sebuah pendekatan yang menarik”.

“Hal ini memang memberikan gambaran yang sangat baik tentang daerah di sekitar patahan dimana Anda perkirakan gempa susulan akan terjadi,” katanya kepada BBC News. Meskipun demikian Dr Cochran mencatat perkiraan jumlah gempa susulan lebih besar pada patahan sebenarnya tidaklah terlalu mengejutkan.

  • Sejumlah warga di Lombok kekurangan bantuan, warga ‘makan sekali sehari’
  • Gempa Lombok: Setidaknya 82 orang meninggal akibat gempa berkekuatan tujuh SR
  • Gempa Lombok: Kenapa ada dua gempa berturutan dan separah apa gempa susulannya?

Jadi, apakah hal ini akan membantu?

“Kita masih sangat jauh dari menggunakan hal ini secara di lapangan,” kata Dr DeVries. “Kami memandang ini sebagai sebuah langkah pertama yang sangat memberikan motivasi.”

Ini memang bukanlah sebuah pendekatan yang sudah dapat digabungkan dengan inisiatif seperti sistem peringatan dini ShakeAlert pantai barat AS, tetapi jaringan syaraf kemungkinan dapat memberikan cara baru untuk memproses informasi dalam jumlah besar yang telah dikumpulkan terkait gempa dan gempa susulannya.

Pemburu gempa susulan

Tetapi data ini sebenarnya berasal dari mana?

Kebanyakan daerah rawan gempa seperti California di Amerika Serikat telah memiliki jaringan seismometer tetapnya sendiri. Alat ini mendeteksi dan mencatat semua getaran daratan.

Tetapi kadang-kadang seismolog menginginkan tambahan sedikit informasi dan saat itulah para pemburu gempa susulan berperan.

Para geolog tetap harus bersusah payah untuk mencapai tempat gempa dan menempatkan peralatan pendeteksi ribuan gempa susulan yang kemungkinan akan terjadi.

  • Sejak hari Minggu Lombok diterjang puluhan gempa bumi
  • Gempa di pulau wisata Lombok, pemerintah Indonesia didesak siapkan antisipasi
  • Gempa Lombok: Setidaknya 16 orang meninggal dunia, 5.000 lebih masih di penampungan

Dr Cochran telah mengunjungi sejumlah tempat gempa di California, Oklahoma dan Meksiko untuk menempatkan seismometer dan terdapat berbagai tim di dunia yang juga segera bergerak ke tempat gempa begitu muncul berita.

“Anda mendapatkan gempa susulan terbanyak pada satu jam pertama atau satu hari setelah gempa utama dan setelah itu tingkatnya akan menurun. Tetapi rangkaian gempa susulan dapat terjadi selama berbulan-bulan,” katanya kepada BBC.

“Kami mencoba untuk berada disana secepatnya meskipun dapat saja kami baru disana beberapa jam atau hari sesudahnya.

Kadang-kadang berbagai peralatan dapat mengirim data secara langsung yang bisa digunakan untuk memberitahu penduduk tentang gempa susulan, tetapi tujuan utamanya adalah lebih mengetahui tempat gempa itu sendiri dan lebih memahami kegiatan di masa depan.

“Karena terjadi begitu banyak gempa susulan, Anda menerima gelombang yang bergerak sepanjang patahan ke banyak arah … ini mirip pemindaian CAT daerah patahan,” Dr Cochran menjelaskan.

Dia merasa pengetahuan mesin hanya dapat membantu perburuan gempa susulan di masa depan, sehingga tidak akan mengancam keberadaan pekerjaannya sendiri.

“Meskipun saya senang menggali lubang di padang pasir … saya masih belum akan kehilangan pekerjaan.”

“Bagi saya, pengetahuan mesin seperti ini sangatlah menarik karena mengambil alih pekerjaan mengolah begitu banyak (data) sehingga saya dapat mengkaji sisi sains dari apa yang akan terjadi sesudahnya.”

Kajian ini diterbitkan di Nature.


(ita/ita)

log in

reset password

Back to
log in